Langsung ke konten utama

MENERBITKAN BUKU SEMAKIN MUDAH DI PENERBIT INDIE

 

Pelatihan belajar menulis bersama PGRI saat ini Rabu tgl. 27 januari 2021 adalah pertemuan ke 11. Narasumbernya adalah Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd., dengan tema "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie". Ketika kita kesulitan dalam menerbitkan naskah untuk menjadi buku di  Penerbit Mayor, maka Penerbit Indie adalah solusinya.

Informasi tentang profil dan hal-hal lain terkait narasumber bisa berkunjung di :

http://www.praszetyawan.com/p/profil.html

https://www.praszetyawan.com/2020/02/buku-blog-untuk-guru-era-40.html

http://www.praszetyawan.com/2021/01/butuh-bantuan-menerbitkan-buku-disini.html

Naskah yang di kirim ke penerbit mayor besar kemungkinannya akan di tolak. Kalaupun naskah kita diterima akan tetapi proses penerbitannya akan memakan waktu lama. Untuk mengatasi semua itu kita bisa mencari penerbit lain dan salah satunya adalah penerbit indie dalam hal ini adalah Penerbit Gemala. Ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan jika naskah kita di kirim ke penerbit indie, diantaranya naskah pasti bisa di terbitkan, proses penerbitan akan mudah dan cepat. Tapi memang kalau di penerbit indie, kita perlu keluar biaya untuk mendapat fasilitas pra cetak penerbitan.

Bagi penulis pemula keberadaan penerbit indie merupakan angin segar. Keberadaannya sangat di nantikan agar cita-cita menerbitkan buku menjadi kenyataan. Membaca buku hasil karya sendiri terasa sangat membanggakan, ada rasa kepuasan tersendiri. Tidak kepikiran apakah nantinya akan terjual atau tidak. Karena yang penting bisa punya buku karangan sendiri.

Ada 30 lebih narasumber yang bisa di serap pengalaman dan wawasannya untuk bahan menulis sebuah buku. Di pelatihan ini juga ada 4 penerbit indie dan kitapun bebas memilih mau menerbitkan buku dimana. Tidak ada ketentuan harus menerbitkan satu penerbit tertentu. Silakan memilih sendiri penerbitnya.

        1.      Kamila Press milik Cak Imin.
2.      Penerbit rekanan saya (Pak Brian).
3.      
YPTD.

      4.      Penerbit rekanan Bu Kanjeng.

Narasumber bersedia mempasilitasi jika peserta berkeinginan untuk menerbitkan buku setelah selesai mengikuti pelatihan belajar menulis ini melalui Penerbit Gemala dengan biaya terjangkau. Dengan uang sebesar Rp. 300.000 kita bisa menerbitkan buku ber-ISBM di penerbit Gemala. Penerbit Gemala termasuk penerbit Indie. Setiap penerbit memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Pilihlah penerbit yang cocok dengan kita, karena ke empat penerbit diatas memiliki penawaran dan ketentuan yang berbeda-beda.

Sampai saat ini sudah ada 23 buku peserta belajar menulis yang terbit. Ada 17 naskah yang sedang diproses di Penerbit Gemala. Di Penerbit Gemala tidak menyediakan fasilitas Editing. Editing tanggung jawab penulis. Maka penulis yang memastikan penulisan dan ejaan sudah pas. Kenapa tidak ada editing ? karena biaya penerbitannya murah. Salah ketik maupun penulisan yang kurang pas dan sejenisnya tidak dikoreksi oleh penerbit. Dan apabila ada keinginan di cetak ulang lagi, minimal harus mencetak sepuluh eksemplar.

Biaya sebasar Rp. 300,000 itu untuk maksimal 130 halaman A5. Jika lebih dari itu akan di kenakan biaya tambahan. Yang tidak kalah pentingnya adalah jangan memberi target kapan buku harus selesai terbit. Karena naskah harus mengantri untuk diproses. Proses penerbitan paling cepat bisa selesai dalam waktu satu bulan. Di Penerbit Gemala tidak ada petugas khusu untuk mengedit, namun sebelum naskah kita terbit, kita akan di beri naskah buku berbentuk PDF (watermark) untuk di cek kembali.

b    Sebelum di terbitkan naskah buku harus disertai kelengkapan naskah yaitu:
1.      Cover ( judul buku dan nama penulis saja),
2.      Prakata,
3.      Daftar isi (tanpa nomor halaman),
4.      Profil penulis,
5.      Sinopsis (3 paragraf. Masing-masing paragraf 3 kalimat)

Keberadaan prakata wajib ada dan di tulis oleh penulis sendiri. Sementara Kata Pengantar ditulis oleh orang lain dan keberadaannya tidak wajib ada. Biasanya peserta belajar menulis meminta kata pengantarnya ke Om Jay.

      Ada beberapa tip dalam mengedit naskah jika tidak ada editor di sebuah penerbit :
1.     Penulisan kata jangan disingkat-singkat (yg, tdk, blm).
2.     Jangan sampai ada tulisan yang salah ketik (Typo).
3.     Satu Paragraf jangan berisi terlalu banyak kalimat.
4.     Mulailah membiasakan membuat kalimat yang pendek-pendek. Kalimat panjang cenderung akan            membingungkan.
5.     Setiap bab baru selalu dimulai di halaman baru. Jangan digabung dengan bab sebelumnya.

Tidak ada ketentuan terkait minimal jumlah halaman. Biasanya buku kumpulan resume pasti bisa lebih dari 90 halaman A5. Karena 20 resume itu banyak.

      Ada empat macam biaya di Penerbit Gemala :
1.      Biaya penerbitan Rp. 300.000.
2.      Biaya kelebihan halaman (jika lebih dari 130 halaman).
3.      Biaya cetak ulang (harga per-buku).
4.      
Biaya ongkir.

Biaya yang sudah pasti adalah biaya penerbitan dan biaya ongkos kirim. Tidak akan kena biaya kelebihan halaman jika naskah kita jumlah halamannya kurang dari 130 halaman A5. Sementara biaya cetak ulang adalah biaya ketika kita mau cetak lagi bukunya. Harga per-buku untuk cetak ulang tergantung jumlah halaman, dan ini adalah biaya yang paling minimal.

Semua buku narasumber di terbitkan di penerbit indie semua. Ada pengaruh pada diri narasumber setelah berhasil menerbitkan buku diantaranya terbentuknya personal branding yaitu menjadi guru penulis. Dengan predikat menjadi guru penulis maka ada peluang untuk di undang menjadi narasumber, mendapat atau menciptakan project di dunia menulis. Di samping juga akan menjadi wirausaha untuk menjual buku.

Agar buku kita bisa diminati banyak orang diantaranya kita harus membuat buku dengan tema yang masih jarang di temukan. Misalnya narasumber mencontohkan di buku pertamanya yaitu tentang “Buku Blog Untuk Guru”. Selain itu target pasarnya juga harus pas. Buku untuk guru maka dijualnya di kalangan para guru.

Jika kita ingin menambah mencetak  buku minimalnya harus sepuluh eksemplar. Harga per-bukunya tergantung jumlah halaman. Misalnya  114 halaman harganya Rp. 33.000 per-buku. Maka jika sepuluh eksemplar adalah 33.000 x 10 = Rp. 330.000. Jadi jika kita menerbitkan dan ingin langsung nambah cetak sepuluh eksemplar maka biayanya 630.000 (untuk tebal buku 114 halaman A5). Jadi total dapat 12 eksemplar Untuk pemasaranya di lakukan oleh penulis itu sendiri.

Demikian pelatihan belajar menulis pada saat ini. Bila hari ini masih menulis di komputer, semoga kelak tulisan kita menjelama menjadi sebuah buku. Jika semua hal bisa diraih dengan mudah, maka kita tidak akan pernah tahu arti sebuah perjuangan dan kesabaran. Memang dunia ini seperti ini adanya, untuk meraih cita-cita haruslah berjuang dan kerja keras.  Terimakasih.

 

Semoga konsisten menulis dan berbagi. Salam Literasi,

Nana Wihana

Komentar

  1. Selalu semangat ya...biar saya ketularan ini...

    BalasHapus
  2. Weishhhhh Blognya cakep Pak .....Tulisan kita unik ya.....semangat kita buat buku solonya...hehe

    BalasHapus
  3. Semakin lancar sepertinya pkaa Nana ...πŸ‘

    BalasHapus
  4. Semakin cakep aja tulisan pak Nana, salam literasi pak Nana, selalu semangatπŸ˜„πŸ‘

    BalasHapus
  5. Lengkap informssi di resumenya pak...πŸ˜πŸ‘

    BalasHapus
  6. Terimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir dan mensuport sy. πŸ‘πŸ™

    BalasHapus
  7. Cakep juga ide - idenya pak tetap selalu semangat untuk berkreasi

    BalasHapus

  8. Pak Nana Joss mantap tulisannya lengkap Ok punya lanjut pak Nana selalu semangat

    BalasHapus
  9. Ditunggu buku Solonya...
    Resume, Amazing...

    BalasHapus
  10. Terimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir dan mensuport sy untuk terus berkarya πŸ™πŸ‘

    BalasHapus
  11. tulisan yang lengkap, jelas dan menggelora, mantap pak Nana.
    semangat berkarya, semangat menginspirasi

    BalasHapus
  12. Jelas dan padat. Semangat berkaryaa

    BalasHapus
  13. Semangat terus pak nana, semangat berkarya, salam literasi.

    BalasHapus
  14. Terimakasih teman2 sudah berkenan mampir dan terimakasih juga atas supportnya πŸ™πŸ™πŸ‘

    BalasHapus
  15. Masya Allah, resume Pak Nana selalu padat, lengkap, sistematis, dan informatif. Tetap semangat Pak Nana OTW menjadi buku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLOG SEBAGAI IDENTITAS DIGITAL BAGI GURU MILLENIAL

  Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita semua diantaranya nikmat sehat sehingga sampai detik ini masih bisa hadir mengikuti kelas belajar menulis. Hari Jum’at, tgl 15 Januari 2021 ini pelatihan akan di pandu oleh moderator Bp. Sucipto Adi yang akrab disapa Pak Cip, sedangkan Narasumbernya adalah Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd. SD. dengan tema “Blog Sebagai Identitas Digital Bagi Guru Millenial”. Untuk mengenal beliau lebih dekat lagi, kita bisa berkunjung ke https://www.cikgutere.com/2021/01/tere-bukan-liye.html.     Di awal menyimak pemaparannya, saya sudah dibuat berdecak kagum oleh prestasi yang telah di raih beliau, 30 BEST ACHIEVEMENT. Luar biasa, keren dan salut. Anggkat topi deh. Menginspirasi sekali di usianya yang relatif masih belia. Nama lengkapnya Theresia Sri Rahayu lahir di Kuningan pada tgl, 13 September 1984. Semasa kecilnya di kenal dengan nama Sri, nama bekennya Tere namun tidak suka deng...

MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS

  PELATIHAN BELAJAR MENULIS BERSAMA PGRI MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS Narsum kali masih muda kelahiran 1990 namun prestasinya luar biasa. Alumni kelas menulis gelombang 7 yang bukunya tembus ke penerbit mayor. Berikut provil narsum kita kali ini bisa berkunjung ke alamat berikut  https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html Sampai saat ini narsum sudah membuat buku solo sebanyak tiga buah buku. Yaitu sbb: 1.     Lelaki di Ladang Tebu (kumpulan cerpen pendidikan) 2.     Membongkar Rahasia Menulis (kumpulan artikel saat lomba blog PGRI) 3.     Sepenggal Kisah Corona (tentang memoar kehidupan saya selama satu tahun pandemi - sedang proses cetak).   Sedangkan dalam platform menulis, ada novel berjudul Precious di Wattpad dan 2 short story "Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja" (Wattpad) dan Djogja Backpacker (Storial) Kalau ditanya mana yang paling berkesan, tentu buku solo pertamanya sebab narsum tuangkan kisah h...