Langsung ke konten utama

MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS BERSAMA PGRI

MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS

Narsum kali masih muda kelahiran 1990 namun prestasinya luar biasa. Alumni kelas menulis gelombang 7 yang bukunya tembus ke penerbit mayor. Berikut provil narsum kita kali ini bisa berkunjung ke alamat berikut  https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html

Sampai saat ini narsum sudah membuat buku solo sebanyak tiga buah buku. Yaitu sbb:

1.    Lelaki di Ladang Tebu (kumpulan cerpen pendidikan)

2.    Membongkar Rahasia Menulis (kumpulan artikel saat lomba blog PGRI)

3.    Sepenggal Kisah Corona (tentang memoar kehidupan saya selama satu tahun pandemi - sedang proses cetak). 

Sedangkan dalam platform menulis, ada novel berjudul Precious di Wattpad dan 2 short story "Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja" (Wattpad) dan Djogja Backpacker (Storial)

Kalau ditanya mana yang paling berkesan, tentu buku solo pertamanya sebab narsum tuangkan kisah hidup beberapa murid saya yang diubah dalam bentuk cerpen.

Yang pertama kita membahas tentang Mental Seorang Penulis

Antara teknik menulis dan mental seorang penulis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di bagian ini kita akan mendaptkan materi yang berhubungan dengan teknik menulis. Misalnya bagaimana kita membuat outline tulisan, membuat judul, teknik menulis sekali duduk dan lain sebagainya. 

Teknik menulis dan mental penulis ibarat menyatunya jiwa dan raga, sehingga keduanya harus ada agar penulis dan tulisannya bisa “hidup”. Teknik menulis mencakup kemampuan seseorang dalam hal menulis. Mulai dari pemilihan kosakata, kemampuan membuat outline, pemahaman mengenai gagasan utama, berbagai jenis tulisan, serta pengetahuan lainnya yang bersifat teknis. Sedangkan mental penulis merujuk kepada kondisi psikologis atau batin si penulis itu sendiri.

Mental apa saja yang harus dimiliki penulis, saya tuangkan dalam bentuk mind map dan video materi yang bisa disimak pada link berikut :

https://dittawidyautami.blogspot.com/2021/01/menjadi-narasumber-di-wag-17-pelatihan.html?m=1 

Mental apa saja yang harus dimiliki penulis, saya tuangkan dalam bentuk mind map dan video materi yang bisa disimak pada link berikut :

Silakan disimak dulu mind map mental menulisnya.

Mind Map tersebut adalah appetizer (hidangan pembuka)

   Salah satu mental yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah siap belajar. Pada kali ini akan menitikberatkan pada keseimbangan teknik dan mental penulis. Berdasarkan keseimbangan teknik dan mental penulis, maka ada empat tipe penulis sebagai berikut :
1.      Dying writer
2.      Dead man
3.      Sick people
4.     
Alive

Tipe pertama adalah Dying Writer atau penulis yang sekarat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang lemah secara teknik pun lemah mentalnya sebagai seorang penulis.

Seolah hidup segan mati tak mau. Misalnya ikut pelatihan menulis tapi setengah hati (lemah hati) dan tidak berkarya membuat tulisan karena bisa disebabkan lemah teknik atau tidak tahu bagaimana harus menulis, bagaimana cara mendapatkan ide dan lain sebagainya.

Penulis tipe ini bukan berarti tak mampu membuat tulisan. Hanya saja diperlukan upaya ekstra agar tipe penulis macam ini “mau” hidup dan sehat kembali untuk segera menulis. Diibaratkan menjadi penulis masih sekedar angan-angan tanpa aksi nyata.

Tipe kedua adalah Dead Man. Sesuai namanya, tulisan dari kategori ini "mati". Tidak diketahui keberadaannya. Terkubur di folder laptop. Terbungkus lembaran diary. Atau notes yang ada di hp. Belum terpublish.

Tekniknya ada dan sudah mampu untuk menulis. Hanya mentalnya masih lemah, malu dan takut dikritik dan lain sebagainya sehingga tidak berani mempublish tulisannya. Belum berani membuat buku atau artikel. Padahal ilmu tentang kepenulisannya sudah mumpuni.

Tipe ketiga adalah Sick People. Orang-orang yang termasuk kategori ini adalah mereka yang masih lemah dalam hal teknik namun sudah cukup memiliki mental sebagai seorang penulis sehingga mempunyai keberanian untuk mempublish tulisannya.  Mereka sudah siap jika ada yang mengkritik, mengomentari tulisannya dan menyadari betul masih terdapat kekurangan dalam tulisannya. Kekurangan bisa dalam bentuk salah ketik, penggunaan kata yang sama beruang kali, paragraf yang terlalu panjang atau hal-hal lainnya.  Obat bagi penulis tipe ini adalah tentu saja agar terus menulis. tingkatkan jam terbang dalam menulis. Insyaallah dengan sendirinya akan sembuh.

Karena dengan terus dan semakin banyak menulis, semakin sering review, semakin banyak membaca sehingga akan bisa meminimalisir kesalahan dan menulisnha.

Tipe keempat adalah Alive. Ini merupakan tipe terbaik. Yaitu seorang penulis yang tulisannya hidup dan senantiasa berkarya seperti jantung yang terus berdetak saat pemiliknya bernyawa. Orang-orang yang ada dalam kelompok ini sudah bisa dikatakan “ahli” menulis, kuat teknik menulis serta kuat juga mentalnya. Meskipun predikat ahli ada tingkatan, yaitu pemula, menengah dan sangat ahli. Namun secara umum kita bisa mengenali mereka dengan mudah.

Misalnya bagi mereka menulis sudah merupakan kebutuhan primer seperti halnya makan minum. Ibaranya, jika tidak menulis maka akan terasa lapar dan haus. Begitu pula mereka yang hidup dalam menulis, akan terasa lapar menulis jika sehari saja tidak menulis. 

Cirinya yang paling kentara dari kelompok ini yaitu menjadi juara lomba menulis. bukunya tembus di jurnal nasional, di media massa dan lain sebagainya. Kelompok Alive ini termasuk kategori pembelajar sejati. Selalu berproses dan mampu menghadapi berbagai tantangan menulis. Meski sibuk masih bisa menyempatkan diri untuk menulis. 

Apakah kita bisa menjadi alive? TENTU BISA. Caranya yang penting teruslah aktif menulis dan pupuk mental penulisnya.

Berdasarkan kuesioner yang disebar ke beberapa orang terkait dengan pertanyaan "Apa yang Anda takutkan ketika menulis/mempublish tulisan?". Ternyata dari tiga puluh jawaban yang ada, sebagian besar bisa dikategorikan menjadi dua macam ketakutan, yaitu :

1.      Takut terkait dengan teknik penulisan, misalnya takut tidak sesuai dengan kaidah penulisan, tidak sesuai aturan penerbit, alur dan pesan tulisan yang masih belum tampak dan rasa takut lain yang sejenisnya.

2.      Adanya rasa takut yang berhubungan dengan penilaian dari orang lain. Misalnya, takut dicemooh, diejek, tidak dibaca dan lain sebagainya.

3.      Sedangkan tiga orang yang lainnya menyatakan tidak memiliki ketakutan. Nah inilah yang harus dijadikan contoh. 

Teknik menulis akan semakin membaik jika kita sering berlatih menulis. Mental penulis akan terbentuk ketika kita terus melatih diri mempublikasikan tulisan kita untuk dibaca oleh orang lain. Jika ingin menjadi penulis hebat maka kita harus mau meningkatkan teknik dan mental menulis kita.

Pada pokok bahasan kedua ini membahas tentang Naluri Penulis. Menurut KBBI online, na-lu-ri n 1 dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting; 2 Psi perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup;

Penulis sejati berangkat dari keresahannya. Membuatnya berbuat melalui "tulisan". Ia mengubah dunia dengan tulisan. Mengubah orang-orang melalui goresan tintanya. Orang yang memiliki naluri penulis akan mengoptimalkan seluruh potensi inderanya sehingga bisa menghasilkan karya yaitu lahirnya sebuah tulisan ataupun berupa buku.

Misalnya dengan inderanya, penulis melihat dengan matanya banyak orang mengunsi dan lain sebagainya kemudian hatinya tergerak untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ini adalah salah satu contoh sosok yang memiliki naluri penulis. Contoh lain misalnya mendengarkan lagu syahdu yang bisa menjadi renungan, kemudian ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Inipun contoh naluri penulis.

Kenali diri anda dan lingkungan anda, kemudian buatlah tulisan. Maka karya-karya yang kita hasilkan akan mengasah naluri penulis dalam diri kita.

https://www.instagram.com/dittawidyautami/?hl=id

Di negera kita memang bisa dibilang orang-orangnya masih antikritik. Masih belum siap dikritik, tapi senang mengkritik. Agar tulisan yang kita tidak berurusan dengan hukum maka hindari hal-hal yang menyangkut SARA. Andaipun tulisan kita ingin mengkritik, salah satu yang aman adalah melalui kolom media massa. Misalnya surat pembaca. Atau jika ingin mengkritik namun dikemas indah, yaitu gunakan salah satunya konotasi, majas, pantun atau bentuk puisi. Melalui kisahpun kita bisa mengkritik. Jika masih khawatir, sebaiknya jangan langsung sebutkan nama/badan yang kita kritik.

Kenali diri anda dan lingkungan anda, kemudian buatlah tulisan. Maka karya-karya yang kita hasilkan akan mengasah naluri penulis dalam diri kita. Sungguh tidak ada yang mengenali diri kita sebaik diri kita sendiri. Orang lain hanya bisa menilai kita, tapi seperti apa kita sesungguhnya hanya kita sendiri yang tahu.   

Namun ada pepatah mengatakan, bahwa jika kamu ingin tahu siapa dirimu, bertanyalah pada sahabtmu. Karena ia akan mengungkapkan kelebihan dan kekuranganmu tanpa melebihkan atau menguranginya.

Jadi, jika belum bisa mengenali kelemahan dan kekuatan dalam menulis, kita bisa meminta bantuan sahabat kita untuk mengomentari. Atau, tanyakan pada ahlinya. Biasanya gaya menulis seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh minat kita dalam membaca. Jadi apa yang kita baca, maka itulah yang akan membawa pada gaya menulis tertentu. 

Prinsipnya kita tidak akan pernah bisa membahagiakan seluruh penduduk bumi. Tapi yang pasti, akan ada saja yang merasakan manfaat dari apa yang kita lakukan atau tuliskan. Maka walupun hanya seorang yang bisa mengambil manfaatnya, berbahagialah. Karena kita masih bisa menebar manfaat padanya. 

Bagi mereka yang berkeinginan untuk menulis namun terbentur waktu, maka disarankan agar membawa catatan atau alat tulis. Bisa juga dicatat di hp bahkan di laptop. Dengan menggunakan alat perekam suarapun bisa. Yang penting, pokok atau idenya dituangkan dulu. Setiap ada ide minimal tuliskan garis-garis besarnya. Tulislah di sela-sela waktu luang di tengah tugas kita sehari-hari. Ide bisa datang dari mana saja. Kalau sudah ada ide pokoknya, maka di waktu luang bisa kita kembangkan menjadi tulisan.

Kemantapan diri menurut saya berhubungan dengan kemantapan hati. Hati kecil tak pernah berdusta. Langkahnya menurut saya ikuti kata hati, apa yang paling ibu senangi. Karena, saat kita memilih apa yang kita senangi dan kuasai, seberat apa pun rintangan yang akan menghadang, pasti tetap akan kita lalui dan bukannya menyerah.

Untuk  menjaga konsistensi dalam menulis bisa dilakukan berbagai cara. Bagi yang menyukai tantangan maka bisa mengikuti group challenge menulis. Seperti di Gurusiana, Lagerunal sebab di group tersebut ada tantangan menulis setiap hari. Sedangkan bagi yang kurang menyukai tantangan bisa dengan membuat target menulis. Misalnya dalam satu minggu harus bisa menghasilkan tiga tulisan atau satu tulisan setiap harinya. Bisa juga dengan bertema, misalnya bulan ini tema tulisannya tentang parenting maka dalam satu bulan harus bisa membuat tulisan tentang parenting dan lain sebagainya.

 

  


 














Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLOG SEBAGAI IDENTITAS DIGITAL BAGI GURU MILLENIAL

  Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita semua diantaranya nikmat sehat sehingga sampai detik ini masih bisa hadir mengikuti kelas belajar menulis. Hari Jum’at, tgl 15 Januari 2021 ini pelatihan akan di pandu oleh moderator Bp. Sucipto Adi yang akrab disapa Pak Cip, sedangkan Narasumbernya adalah Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd. SD. dengan tema “Blog Sebagai Identitas Digital Bagi Guru Millenial”. Untuk mengenal beliau lebih dekat lagi, kita bisa berkunjung ke https://www.cikgutere.com/2021/01/tere-bukan-liye.html.     Di awal menyimak pemaparannya, saya sudah dibuat berdecak kagum oleh prestasi yang telah di raih beliau, 30 BEST ACHIEVEMENT. Luar biasa, keren dan salut. Anggkat topi deh. Menginspirasi sekali di usianya yang relatif masih belia. Nama lengkapnya Theresia Sri Rahayu lahir di Kuningan pada tgl, 13 September 1984. Semasa kecilnya di kenal dengan nama Sri, nama bekennya Tere namun tidak suka deng...

MENERBITKAN BUKU SEMAKIN MUDAH DI PENERBIT INDIE

  Pelatihan belajar menulis bersama PGRI saat ini Rabu tgl. 27 januari 2021 adalah pertemuan ke 11. Narasumbernya adalah Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd., dengan tema "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie". Ketika kita kesulitan dalam menerbitkan naskah untuk menjadi buku di    Penerbit Mayor, maka Penerbit Indie adalah solusinya. Informasi tentang profil dan hal-hal lain terkait narasumber bisa berkunjung di : http://www.praszetyawan.com/p/profil.html https://www.praszetyawan.com/2020/02/buku-blog-untuk-guru-era-40.html http://www.praszetyawan.com/2021/01/butuh-bantuan-menerbitkan-buku-disini.html Naskah yang di kirim ke penerbit mayor besar kemungkinannya akan di tolak. Kalaupun naskah kita diterima akan tetapi proses penerbitannya akan memakan waktu lama. Untuk mengatasi semua itu kita bisa mencari penerbit lain dan salah satunya adalah penerbit indie dalam hal ini adalah Penerbit Gemala. Ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan jika naskah kita di kiri...