Lomba Blog PGRI di Bulan Februari 2021
TETAP SEMANGAT DAN KREATIF MENULIS DI BLOG JADI BUKU
Senin, tanggal 15 Februari 2021
Hari ke-15
Oleh
Nana Wihana
NPA : 1019200412
Di
persimpangan jalan saya berhenti dan bertanya kepada seorang ibu yang sedang menyuapi
anaknya.
“Permisi
bu, numpang nanya kalau MTs Nurul Hidayah itu di sebelah mana dari sini ya?”.
“Kurang
tahu pa, coba tanya ke anak-anak yang sedang duduk-duduk itu.”Sambil menunjuk kearah
anak.” Sayapun langsung menghampiri anak-anak yang tampak sedang bercanda ria.
Setelah
bertanya-tanya akhirnya tiba juga di tempat yang di tuju. Sebuah desa yang
banyak di kelilingi sawah. Untuk sampai di sekolah harus melintasi sebuah sungai.
Jembatan yang terbuat dari anyaman bambu dan sebagian terbuat dari kayu. Kemudian
menyusuri jalan setapak yang apabila hujan akan tampak berubah menjadi kubangan
lumpur. Kira-kira 200 meteran jarak yang harus di tempuh untuk sampai di sebuah
sekolah tersebut.
Setibanya
di sekolah saya di sambut oleh salah seorang guru. Seraya mengucapkan salam, “Assalamualaikum,”sayapun
memperkenalkan diri.
“Waalaikum
salam”, Mau ke siapa pa?, jawabnya ramah. Namanya Pak Sohib, sayapun di ajak ke
sebuah ruangan guru. Saya ceritakan maksud kedatangan ke sekolah tersebut,
selebihnya beliau bercerita banyak hal tentang sekolah tersebut. Mulai dari
jumlah siswa, keadaan sekolah dan jumlah guru yang ada. Sekolah tersebut
terdiri dari tiga ruangan utama. Kami berada
di ruangan guru yang berbatasan dengan kamar kecil. Tiga ruangan di gunakan
untuk kegiatan belajar mengajar. Sisanya dua ruangan untuk kantor kepala
sekolah dan ruang perpustakaan mini.
Sepintas saya menangkap kesan bahwa Pak Shohib ini seorang yang berdedikasi tinggi. Beliau menghabiskan hidupnya untuk kemajuan daerahnya melalui pendidikan. Malam hari beliau membibing anak-anak sekitar untuk belajar mengaji tanpa pamrih. Siangnya mengajar di Madrasah Tsanawiyah bersama saya dan rekan-rekan yang lainnya. Jika jam kosong beliau pergi ke sawah. Mayoritas masyarakat setempat berprofesi sebagai petani, begitu juga beliau. Kesibukannya semakin bertambah semenjak beliau di tunjuk oleh ketua yayasan menjadi pengurus harian.
Hidupnya yang sederhana, bahkan pas-pasan tapi masih juga memikirkan hidup orang lain. Membimbing anak orang lain untuk belajar mengaji tanpa pamrih. Jiwa sosialnya tinggi. Di sekolahpun beliau menerima honorarium seadanya. Andai beliau konsentrasi penuh bekerja di sawah, besar kemungkinan akan lebih makmur seperti halnya teman-teman sebayanya yang seharian berkerja di sawah. Entahlah, saya sendiri belum mengetahui motivasi apa di balik semua itu. Terima kasih. Bersambung,…
Salam
literasi,
Nana
Wihana



Waah penasaran ini, di tunggu sambungannya ya ...
BalasHapusInsyaallah,.. terimakasih telah berkunjung ke blog saya 🙏👍
HapusWah jadi tahu nih siapa pak Nana. Semangat pak...
BalasHapusIyh 🤭, terimakasih telah berkunjung ke blog saya 🙏👍
HapusPak Shohip adalah guru yang dilahirkan, sehingga memiliki jiwa mendidik tergambar dari segala yang dilakukannya.
BalasHapusIyh btl. Terimakasih telah berkunjung ke blog saya ini 👍🙏
Hapus
BalasHapusWeicshhh dah mulai nampak di episode 2...kerennn pak semangat
BalasHapusLupa tuh Etin pak
Htr Nuhun Bu 🙏👍
HapusMenunggu episode selanjutnya
BalasHapusSiiip dan mashaAlloh luar biasa
BalasHapusTerimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya 🙏👍
BalasHapusMasya Allah, sangat inspiratif kisahnya Pak. Makin penasaran menanti klimaksnya. Tetap semangat mewujudkn harapan menjadi Buku Pak.
BalasHapus