Lomba Blog PGRI di Bulan
Februari 2021
TETAP SEMANGAT DAN KREATIF MENULIS DI BLOG JADI BUKU
Selasa, tanggal 16 Februari 2021
Hari ke-16
Oleh
Nana Wihana
NPA : 1019200412
HONDA
3
Mentari pagi mulai meninggi. Udara panaspun mulai menerpa masuk melalui jendela ruangan. Tak lama seorang anak kecil muncul di ambang pintu sambil membawakan minuman berikut snek. Bincang-bincangpun berlanjut dan semakin seru mulai dari cerita kedinasan sampai ke hal-hal pribadi beliau.
“Kalau boleh tahu motivasi apa sih sampai Bapak punya perhatian besar kepada dunia pendidikan, termasuk membimbing anak-anak belajar mengaji?” sergah saya penuh rasa penasaran.
“Rasa cinta kepada anak dan dunia pendidikan masih tetap ada. Karena dulunya memang saya pernah kuliah di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Walaupun cuma bertahan satu tahun, yang seharusnya tiga tahun. Saya drop out karena terkendala biaya, dan akhirnya saya pulang kampung untuk membantu orang tua saya di sawah.” Seraya menerawang masa-masa muda dulu sebagai mahasiswa. Beliaupun melanjutkan ceritanya.
“Bagi
saya pribadi, belajar itu tidak harus di sekolah, belajar tidak mesti di bangku
kuliah. Di manapun bisa belajar. Apalagi sekarang sudah ada pendidikan non
formal, ada kursus ataupun bimtek. Ya syukur-syukur jika masih bisa menempuh
pendidikan formal. Yang penting kitanya ada kemauan untuk belajar, untuk
membaca. Dari membaca pengetahuan dan keterampilan kita akan bertambah. Bukan kan
buku itu gudangnya ilmu, dan membaca adalah kuncinya.” Papar beliau panjang lebar.
“Betul pak, saya setuju yang penting ada kemauan untuk membekali diri dengan cara belajar. Banyak membaca. Bukankah orang-orang yang berilmu akan di naikan derajatnya beberapa tingkat oleh Allah SWT?” timpal saya sambil sekali-sekali mengambil snek yang ada di depannya.
“Betul sekali pak,” selama ini saya belajar secara otodidak. Karena saya sudah mempunyai basic keilmuannya sebab dulu pernah kuliah, kekurangannya bisa di pelajari secara mandiri. Memang mempelajari disiplin ilmu harus ada mentornya, harus ada gurunya. Jadi ada yang membimbing dan mengarahkannya sehingga tidak sesat. Belajar secara otoditak juga bisa di lakukan asal kitanya sudah memiliki dasar keilmuan terlebih dahulu, kekurangannya bisa kita pelajari sambil jalan.
Tampaknya beliau semakin semangat berdiskusinya lalu bercerita lagi, “Tidak ada bedanya dengan mereka yang belajar di sekolah ataupun di kampus. Bedanya hanya satu, yaitu mereka mendapatkan ijazah sementara yang belajar otodidak tidak. Lagian hemat saya ya pak maaf kalau berbeda pendapat, “ijazah itu hanya sebatas tanda bahwa kita pernah belajar, bukan pernah berpikir.” Silahkan bapak pelajari dan hayati, apa makna yang terkadung di dalam pernyataan saya tadi.
Terima
kasih. Bersambung,…
Salam literasi



Wah bakal seru ceritanya nih...sip pak...
BalasHapusSiap menunggu lanjutannya
BalasHapusSepakat, Ijazah itu tanda bahwa kita pernah belajar, bukan pernah berpikir
BalasHapusSetuju Pak ,Ijazah itu tanda kita pernah belajar,,,,he,,,semangat pak semakin tajam
BalasHapusTerimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya 👍🙏
BalasHapusPak Nana keren ceritnya dan tetap semangat
BalasHapustampilan teks nya tambah jos dan jangan lupa mampir di blog saya juga
BalasHapushttps://terbitkanbukugratis.id/herni-sunarya-banah/02/2021/serabi-vs-klanceng/
https://hernisbanah.blogspot.com/2021/02/serabi-vs-klanceng.html
Asyiik, makin keren ini ceritanya. Lanjut Pak, tetap semangat sampai menjadi buku ya?
BalasHapusTerimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya 🙏👍
BalasHapusMenunggu cerita selanjutnya...mantapp...
BalasHapus