Lomba Blog PGRI di Bulan
Februari 2021TETAP SEMANGAT DAN KREATIF MENULIS DI BLOG JADI BUKURabu, tanggal 17 Februari 2021Hari ke-17OlehNana WihanaNPA : 1019200412
HONDA 4
Saya berusaha menjawab pertanyaan itu sebisa mungkin, tidak enak juga kalau selalu menjadi pendengar setia. Apalagi kalau cuma manggut-manggut tanda setuju, akan kelihatan betul bodohnya saya. Mudah-mudahan tidak ada debat kusir hari ini.
”Setiap orang akan berbeda-beda dalam memandang ataupun menyikapi sesuatu,” sambung saya sambil berpikir keras mencari jawaban selanjutnya. “Orang yang lulus dari sebuah perguruan tinggi kemudian menduduki posisi strategis di sebuah perusahaan, maka dampak tindakannya akan sangat luas”. Setiap kebijakannya akan di rasakan oleh seluruh karyawan di perusahaan tersebut. Ya syukurlah kalau dampaknya positif, tapi bagaimana jikalau dampaknya negatif ?, itu yang jadi masalah.” Pungkas saya.
“Misalnya melakukan tindak pidana korupsi, maka yang di rugikan adalah perusahaan tersebut dan sejumlah karyawannya.” Berbeda dengan misalnya pencuri ayam, yang di rugikan hanya individu atau keluarga. Tak mau berdebat panjang lebar, saya alihkan dengan pertanyaan kedua. “Kemudian apa juga yang melatarbelakangi Bapak mau membimbing anak-anak sekitar untuk belajar mengaji tanpa pamrih?”.
Sambil mengubah posisi duduknya beliaupun menjawab,” Dulu sewaktu saya masih kecil ingin sekali bisa mengaji tapi kepada siapa saya harus belajar sementara kedua orang tua saya tidak bisa mengaji. Akhirnya saya di titipkan pada tetangga sebelah untuk bisa belajar mengaji, tapi itupun hanya berlangsung beberapa minggu saja”. Dia harus pindah tugas ke daerah lain di karenakan mutasi. Saya pun tidak bisa belajar mengaji lagi untuk beberapa hari. Tak menyangka seorang teman mengajak saya untuk belajar mengaji di sebuah mushola. Lagi-lagi hal serupa terulang kembali. Orang yang membimbing anak-anak belajar di mushola tersebut tidak datang lagi. Mungkin dia sibuk dengan keluarganya atau ada hal-hal yang lainnya.
Sejak
saat itu saya berjanji pada diri sendiri, berjanji dalam hati akan membimbing
anak-anak di sekitar untuk belajar jika saya sudah bisa mengaji. Rupanya itu
yang menjadi alasan beliau mengapa mau membimbing anak-anak untuk belajar
mengaji. Tak terasa waktupun sudah menunjukan pukul 12.00 dan sayapun pamit. “Terima
kasih atas waktunya pak dan saya mau pamit pulang.” Kami berdua berdiri dan saling
bersalaman lalu berjalan keluar ruangan. “Baik pak nanti saya sampaikan kepada
Pimpinan saya maksud dan tujuan kedatangan Bapak ke sekolah ini.” Pesan beliau
ramah. Terima kasih.
Salam
literasi,…



Perfect, semangat terus pak...
BalasHapusTerimakasih 👍🙏
Hapus
BalasHapusPengalaman pribadi ya pak ...kerennn
Etin
Seneng bacanya
BalasHapusTerimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya ini 👍🙏
BalasHapusTabungan akhurat yang akan kita petik nanti setelah berpindah alam
BalasHapusMasya Allah, cita2 mulia banget itu Pak. Semoga barokah.
BalasHapuslanjut terus, Pak
BalasHapusMantap
Semakin mantap saja Pak...
BalasHapus