Lomba Blog PGRI di Bulan Februari 2021
TETAP SEMANGAT DAN KREATIF MENULIS
DI BLOG JADI BUKU
Selasa, tanggal 09 Februari 2021
Hari ke 9
Oleh
Nana Wihana
NPA : 1019200412
Pak Agung adalah teman saya sejak lama, sekaligus senior dan inspirator bagi semua orang. Usianya terpaut jauh dari saya, beliau tidak berambisi menduduki jabatan tertentu di lingkungan dinasnya. Moto hidupnya adalah jalani, nikmati dan syukuri. Ia selalu bersyukur dan menikmati alur hidup ini laksana air mengalir dari hulu ke hilir. Suatu hari Pak Agung duduk termenung di depan laptop putihnya. Ia memang hoby menulis dan membaca, kegiatan menulis dia curahkan melalui laptopnya sedangkan membaca lebih sering melalui media online. Ia beranjak bangun, kedua matanya menatap tajam pada benda-benda yang berjajar di depannya.
Beberapa piala tampak berdiri kokoh di atas lemari kaca, sementara beberapa sertifikat penghargaan tergantung di dinding sebelah kiri lemari kaca tersebut. Kenangan itu di rawatnya dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Bertahun-tahun lamanya piala dan sertifkat penghargaan itu menjadi pemantik agar selalu aktif dan kreatif di dalam menulis. Sudah banyak karya-karyanya yang terlahir dari kreatifitas tangannya.
Jika ada orang yang bertanya, Pak Agung akan bercerita dengan penuh kebanggaan, sambil memotivasi agar orang-orang yang mengapresiasinya bisa mengikuti jejaknya. Penghargaan demi penghargaan telah banyak di perolehnya, baik berupa piala ataupun sertifikat. Siapa yang tidak bangga memiliki prestasi sehebat itu? Berbagai plakat penghargaan yang diterimanya selama puluhan tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.
Baginya di puji tidak terbang, dan dicacipun tidak tumbang. Bagi beliau apa yang telah di lakukan untuk kemanjuan sekolah itu adalah sesuatu yang biasa. Memang sudah seharusnya. Jadi tidak istimewa. Menurut penuturan Pak Agung semenjak mahasiswa dulu beliau sudah cinta dengan dunia pendidikan. Ingin rasanya membantu orang tua siswa membimbing anak-anak mereka untuk belajar.
Awalnya Pak Agung sempat mengeluh ketika pertama kali bertugas di sana. Ingin rasanya cepat pindah kembali ke kampung halamannya. Apalagi jarak tempuh dari rumahnya cukup jauh. Sarana dan prasarana yang terbatas di tambah gaji yang sering tersendat. Apalagi sekolah tersebut milik swasta, begitu juga status enam gurunya adalah guru tidak tetap. Begitu juga status kepala sekolahnya yang di angkat oleh yayasan.
Namun harapan untuk pindah kembali pupus saat beliau menyaksikan anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu. Di lihatnya anak-anak itu dengan tatapan nanar, matanya berkaca-kaca. Kalau beliau pindah siapa lagi yang akan peduli kepada mereka. Pak Agunglah yang bertanggung jawab mengurus segala sesuatunya di sekolah itu, mengingat beliau adalah satu-satunya Pegawai negeri sipil di sekolah itu.
Tak
terasa kini masa-masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada
usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Agung harus meninggalkan
desa itu. Beliau akan kembali lagi tinggal di rumah peninggalan mertuanya di
pinggir kota. Mertuanya sengaja memberikan rumah untuk anak bungsunya yang
tiada lain adalah istrinya Pak Agung. Isak tangi mengiringi kepergian Pak
Agung. Sekarang beliau jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan
tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.
Terimakasi
Salam
literasi.

Pak Agung yang menginspirasi...
BalasHapusTerimakasih
HapusInspiratif sekali ceritanya Pak. Karakternya mirip sekali dh almarhum guru B. Indonesia saya waktu SMP dulu, Pak Hariyadi namanya.
BalasHapusLuar biasa ceritanya ... Keren
BalasHapusTerimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya.👍🙏
BalasHapusCerita yang luar biasa, Salam literasi pak Nana.
BalasHapusThank you 🙏👍
Hapus