Langsung ke konten utama

MENULIS DI BLOG JADI BUKU ke 1

 

Lomba Blog PGRI di Bulan Februari 2021

TETAP SEMANGAT DAN KREATIF MENULIS DI BLOG JADI BUKU

Hari ke 1

Oleh

Nana Wihana


MENULIS DI BLOG JADI BUKU

Pada pelatihan belajar menulis hari senin tanggal 01 Februari 2021 ada sesuatu yang berbeda, Om Jay langsung memberikan pemaparan tentang KOMITMEN MENULIS BLOG. Awalnya narsum akan di hadiri oleh Bp. Dedi Dwitagama, namum beliau berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Sebelum ke acara pokok, Om Jay sedikit bercerita akan ada lomba blog PGRI di bulan februari ini. Beliau mengajak kepada peserta agar bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan menulis di blog itu sendiri di prakarsai oleh PGRI dan YPTD. Awalnya, saya pribadi sedikit bimbang dan ragu. Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan menulis saya yang masih jauh dari kata sempurna. Apalagi harus menulis setiap hari selama 28 hari kedepan. Otomatis akan ada perubahan manajemen waktu yang harus di tinjau ulang  untuk memastikan segala kegiatan bisa berjalan bersamaan.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya bulatkan tekad untuk mengikuti lomba blog ini. Dengan tema “Menulis di Blog Jadi Bukku.” Ada beberapa motivasi yang melatarbelakangi, pertama ingin mendapatkan pengalaman, kedua ingin menjaga konsistensi menulis yang mulai tumbuh setelah mengikuti pelatihan belajar menulis kemudian juga untuk melatih dan mengasah keterampilan menulis.

Di hari pertama mengikuti lomba blog, saya awali dengan menulis tentang kegiatan belajar mengajar tatap muka berubah menjadi kegiatan belajar di rumah akibat pandemi covid-19. Seperti biasa dan merupakan kegiatan rutin, sebelum mengajar di kelas saya di sibukan dengan menyiapakn materi yang akan di sampaikan di kelas. Tangan ini masih sibuk di atas keyboard laptop hitamku ketika HP-ku berbunyi. Ada sebuah pesan melalui WA masuk, “ mulai besok dan beberapa hari kedepan agar semua siswa belajar di rumah”. Demikian pesan yang terbaca.

Masih belum paham dengan pesan yang di sampaikan melaui group sekolah tersebut. Akhirnya menghubungi rekan kerja terdekat, dan di temukan penyebabnya adalah karena ada penduduk di sekitar sekolah yang terpapar positif covid-19. Tempat tinggal korban memang cukup jauh tapi ada siswa di sekolahku berasal dari daerah itu. Dan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 akhirnya sekolah mengambil kebijakan dengan cara belajar dari rumah (BDR).

Setelah mengetahui kabar yang sebenarnya dari rekan kerja, saya bingung dan termenung. Ya Allah ternyata ada bahaya mengancam neggeri tercinta ini seraya meminta di beri kesabaran dan kekuatan. Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap. 

Sejak mewabahnya covid-19 di Indonesia sekitar bulan Maret 2020, maka semua kegiatan yang sudah berjalan terpaksa di hentikan sampai batas waktu yang tidak di tentukan.  Namun kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan dengan pola belajar dari rumah (BDR). Para guru dan siswa hanya berinteraksi melalui medsos. Salah satu aplikasi yang di gunakan adalah Goggle Class Room (GCR). Dari sekian banyaknya aplikasi pembelajaran, maka terpilihlah model pembembelajaran berupa Goggle Class Room. Dimana aplikasi ini cukup lengkap dan simple, termasuk sudah lengkapai dengan system penilaian otomatis.

Sekitar bulan Agustus 2020, ada beberapa sekolah yang mengadakan pembelajran tatap muka. Namun sebelumnya ada beberapa persyaratan yang harus di laksanakan yaitu diantaranya jumlah siswa yang hadir di sekolah hanya 50% dari jumlah tiap kelasnya, pihak sekolah menyediakan fasilitas temapt cuci tangan dan hand sanitizer, setiap orang yang berada di lingkungan sekolah harus bermasker dan menjaga jarak serta alokasi waktu pembelajaran tidak terlalu lama.

Guru, orang tua dan para siswa menyambut kebijakan ini dengan gembira karena memang semuanya merindukan saat-saat belajar di sekolah secara langsung. Semuanya semangat untuk belajar dan mengajar meskipun hasilnya tidak maksimal karena waktunya tidak mencukupi. Dengan tatap muka setidaknya guru dan siswa bisa bertanya langsung manakala ada pertanyaan ataupun masalah yang belum di pahami, adanya pendidikan karakter, serta transfer ilmu yang dapat meringankan beban orang tua yang selama ini berperan sebagai guru di rumah masing-masing.

Namun kegiatan belajar tatap muka di sekolah tidak berjalan mulus. Sebab pandemi covid-19 masih belum mereda dan fluktuatif. Dan akhrinya kegiatan belajar dari rumah (BDR) kembali di berlakukan guna mengantisipasi penyebaran wabah. Kebijakan ini kembali di ambil pihak sekolah demi menjaga keselamatan dan kesehatan semua pihak. Memang sedih dan kecewa, namun kita hendaknya berpikiran positif bahwa hal ini di berlakukan demi menjaga kesehatan dan merupakan tindakan preventif yang harus di ambil oleh pihak sekolah.

Yang hanya bisa dilakukan hanyalah berjaga-jaga melindungi diri dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat serta berserah diri kepada yang Maha kuasa agar pandemi covid-19 ini seger berakhir. Aamiin. Dan tetap semangat belajarnya, karena ini semua sudah ada yang mengaturnya, sang sutradara yaitu Allah SWT. Tugas kita tinggal berusaha dan berdo’a, selebihnya kita pasrahkan kepada-Nya.

 


Komentar

  1. Resume yang memotivasi kita untuk selalu berkarya ditengah pandemi ...
    Amazing ...

    BalasHapus
  2. Masya Allah, pengalaman Pak Nana dalam pembelajaran jarak jauh hampir sama dg yg sy alami. Tetap semangat berkarya dan menginspirasi ya Pak?

    BalasHapus
  3. Terimakasih teman2 semuanya telah berkenan mampir ke blog saya.🙏👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLOG SEBAGAI IDENTITAS DIGITAL BAGI GURU MILLENIAL

  Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita semua diantaranya nikmat sehat sehingga sampai detik ini masih bisa hadir mengikuti kelas belajar menulis. Hari Jum’at, tgl 15 Januari 2021 ini pelatihan akan di pandu oleh moderator Bp. Sucipto Adi yang akrab disapa Pak Cip, sedangkan Narasumbernya adalah Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd. SD. dengan tema “Blog Sebagai Identitas Digital Bagi Guru Millenial”. Untuk mengenal beliau lebih dekat lagi, kita bisa berkunjung ke https://www.cikgutere.com/2021/01/tere-bukan-liye.html.     Di awal menyimak pemaparannya, saya sudah dibuat berdecak kagum oleh prestasi yang telah di raih beliau, 30 BEST ACHIEVEMENT. Luar biasa, keren dan salut. Anggkat topi deh. Menginspirasi sekali di usianya yang relatif masih belia. Nama lengkapnya Theresia Sri Rahayu lahir di Kuningan pada tgl, 13 September 1984. Semasa kecilnya di kenal dengan nama Sri, nama bekennya Tere namun tidak suka deng...

MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS

  PELATIHAN BELAJAR MENULIS BERSAMA PGRI MENTAL DAN NALURI SEORANG PENULIS Narsum kali masih muda kelahiran 1990 namun prestasinya luar biasa. Alumni kelas menulis gelombang 7 yang bukunya tembus ke penerbit mayor. Berikut provil narsum kita kali ini bisa berkunjung ke alamat berikut  https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html Sampai saat ini narsum sudah membuat buku solo sebanyak tiga buah buku. Yaitu sbb: 1.     Lelaki di Ladang Tebu (kumpulan cerpen pendidikan) 2.     Membongkar Rahasia Menulis (kumpulan artikel saat lomba blog PGRI) 3.     Sepenggal Kisah Corona (tentang memoar kehidupan saya selama satu tahun pandemi - sedang proses cetak).   Sedangkan dalam platform menulis, ada novel berjudul Precious di Wattpad dan 2 short story "Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja" (Wattpad) dan Djogja Backpacker (Storial) Kalau ditanya mana yang paling berkesan, tentu buku solo pertamanya sebab narsum tuangkan kisah h...

MENERBITKAN BUKU SEMAKIN MUDAH DI PENERBIT INDIE

  Pelatihan belajar menulis bersama PGRI saat ini Rabu tgl. 27 januari 2021 adalah pertemuan ke 11. Narasumbernya adalah Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd., dengan tema "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie". Ketika kita kesulitan dalam menerbitkan naskah untuk menjadi buku di    Penerbit Mayor, maka Penerbit Indie adalah solusinya. Informasi tentang profil dan hal-hal lain terkait narasumber bisa berkunjung di : http://www.praszetyawan.com/p/profil.html https://www.praszetyawan.com/2020/02/buku-blog-untuk-guru-era-40.html http://www.praszetyawan.com/2021/01/butuh-bantuan-menerbitkan-buku-disini.html Naskah yang di kirim ke penerbit mayor besar kemungkinannya akan di tolak. Kalaupun naskah kita diterima akan tetapi proses penerbitannya akan memakan waktu lama. Untuk mengatasi semua itu kita bisa mencari penerbit lain dan salah satunya adalah penerbit indie dalam hal ini adalah Penerbit Gemala. Ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan jika naskah kita di kiri...